




Reaksi vaksin dalam tubuh dapat berbeda pada masing-masing individu. Sebagian besar tidak mengalami keluhan atau keluhan ringan pasca vaksinasi.
KIPI biasanya bersifat ringan dan sementara, antara lain:
Anda dapat juga mengalami gejala mirip flu dan menggigil selama 1-2 hari.
Informasi ini bersifat panduan. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan jika Anda memiliki pertanyaan seputar kondisi kesehatan.
Edukasi Terkait Tentang KIPI atau Reaksi Setelah Vaksinasi COVID-19
Apa saja Efek Samping Setelah Mendapatkan Vaksinasi? Yuk Pahami Disini
Jika merasa tidak nyaman, Anda sebaiknya beristirahat. Jika dibutuhkan, Anda dapat menggunakan obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan dan minum air putih dengan cukup.
Jika terdapat rasa nyeri di tempat suntikan, tetap gerakkan dan gunakan lengan seperti biasa. Apabila perlu, kompres bagian yang nyeri dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin.
Beberapa orang yang memiliki alergi terhadap zat tertentu mungkin mengalami reaksi segera setelah divaksinasi. Akan tetapi, hal ini sangat jarang terjadi. Sebagai antisipasi, setiap penerima vaksin diminta menunggu di lokasi vaksinasi selama minimal 15 menit untuk dipantau keadaannya.
Sebagian orang mengalami KIPI yang lebih kuat setelah dosis kedua, namun ada pula yang tidak. Semua reaksi ini normal dan jika terjadi, akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
Jika demam timbul lebih dari 48 jam setelah vaksinasi, atau berlangsung lebih lama dari 48 jam, Anda harus isolasi mandiri dan melakukan tes COVID-19.
Jika keluhan tidak berkurang, penting untuk tetap tenang dan segera menghubungi petugas kesehatan di nomor kontak yang tertera di kartu vaksinasi Anda.
Tidak. Tidak ada vaksin COVID-19 di dunia saat ini yang mengandung virus aktif yang dapat menyebabkan seseorang menjadi terinfeksi virus COVID-19. Hal ini berarti tidak ada vaksin COVID-19 yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit atau terinfeksi COVID-19.
Vaksin COVID-19 “mengajarkan” sistem imun manusia untuk mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Kadang proses ini dapat menyebabkan beberapa gejala seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membentuk proteksi dan sistem kekebalan tubuh melawan virus yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit atau terinfeksi COVID-19.
Tidak. Tidak ada vaksin COVID- 19 yang telah diteliti dan direkomendasikan untuk dipakai yang dapat menyebabkan seseorang terdeteksi positif saat dilakukan test swab antigen dan PCR (pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui apakah saat ini mengalami infeksi aktif).
Jika tubuh mulai membentuk respon imun terhadap vaksin (yang adalah tujuan utama vaksinasi) maka penerima vaksin dapat menerima hasil positif dalam tes antibodi. Tes antibody mengindikasikan bahwa seseorang sebelumnya mengalami infeksi dan memiliki level proteksi melawan virus.
Ya. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia 12 tahun ke atas, termasuk perempuan yang sedang dalam program kehamilan atau akan hamil di masa mendatang, termasuk juga untuk pasangannya.
Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin apapun, termasuk COVID-19, dapat menyebabkan masalah kesuburan atau kesulitan hamil pada perempuan dan laki-laki.
Tidak. Siklus menstruasi perempuan tidak dapat dipengaruhi dengan berdekatan dengan seseorang yang menerima vaksin COVID-19.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi, termasuk stress, perubahan dalam jadwal, masalah dengan tidur, dan perubahan dalam pola makan atau olahraga. Infeksi juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi.
Tidak. Menerima vaksin COVID-19 tidak dapat membuat seseorang menjadi magnetik, termasuk pada lokasi penyuntikan yang biasanya dilakukan pada lengan atas. Vaksin COVID-19 tidak mengandung bahan yang dapat memproduksi medan magnet pada lokasi penyuntikan. Semua vaksin COVID-19 bebas dari logam.
Tidak. Vaksin COVID-19 tidak dapat mengubah atau berinteraksi dengan DNA seseorang dalam cara apapun. Baik jenis vaksin dengan platform mRNA, inactivated vaccines dan viral vector, vaksin COVID-19 memberikan instruksi (dalam bentuk material genetik) kepada sel tubuh kita untuk mulai membuat kekebalan tubuh melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Walaupun begitu, materi genetik tersebut tidak akan pernah masuk ke dalam inti sel, tempat DNA berada.
YA. Vaksin COVID-19 meski dikembangkan dengan cepat namun melalui tahapan-tahapan untuk memastikan efikasi dan keamanannya.
Seseorang tetap dapat menerima vaksin COVID-19 dan vaksin lainnya, termasuk vaksin influenza, bahkan pada waktu yang sama. Pengalaman dengan vaksin lainnya menunjukkan bahwa cara tubuh kita mengembangkan kekebalan atau proteksi diketahui sebagai respon imun dan efek samping yang mungkin terjadi setelah tervaksinasi umumnya sama dengan baik diberikan bersamaan dengan vaksin lain atau diberikan tunggal.
YA. Seseorang harus tetap divaksinasi meskipun sudah terinfeksi COVID-19, karena:
• Penelitian belum dapat memastikan seberapa lama seseorang terproteksi setelah terinfeksi COVID-19 dan sembuh.
• Vaksinasi menolong untuk melindungi seseorang bahkan jika terinfeksi COVID-19.
Salah satu penelitian menunjukkan bahwa orang tidak tervaksin yang sudah terinfeksi COVID-19, 2 kali beresiko terinfeksi COVID-19 lagi dibandingkan orang yang sudah tervaksinasi penuh.
Berita dan Informasi Untuk Membantu Kamu dalam Memperoleh Informasi Terpercaya
Satuan Tugas Penanganan COVID-19 - ©