Loading...
Vaksin COVID-19 & KIPI

Informasi Tentang KIPI atau Reaksi Setelah Vaksinasi COVID-19

Image

Perlindungan

Imun tubuh

Pencegahan

Terkena virus

Perawatan

Kesehatan diri

Gejala

Efek kerja vaksin

Hal-hal yang perlu diketahui!

Tidak semua orang yang divaksinasi COVID-19 mengalami reaksi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Jika muncul reaksi atau KIPI, itu adalah sesuatu yang wajar.

Ingat, KIPI atau reaksi yang muncul setelah vaksinasi jauh lebih ringan dibandingkan terkena COVID-19 atau komplikasi yang disebabkan oleh virus COVID-19.

Para ahli sepakat bahwa vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan (3M) adalah cara yang paling tepat untuk keluar dari pandemi ini.

Mengapa saya mengalami KIPI?

Reaksi vaksin dalam tubuh dapat berbeda pada masing-masing individu. Sebagian besar tidak mengalami keluhan atau keluhan ringan pasca vaksinasi.

Jika mengalami reaksi ringan seperti di atas, apa yang harus saya dilakukan?

Jika merasa tidak nyaman, Anda sebaiknya beristirahat. Jika dibutuhkan, Anda dapat menggunakan obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan dan minum air putih dengan cukup

Jika terdapat rasa nyeri di tempat suntikan, tetap gerakkan dan gunakan lengan seperti biasa. Apabila perlu, kompres bagian yang nyeri dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin.

Photo - UNICEF/2021/Ijazah

Image

Apa saja yang termasuk KIPI?

KIPI biasanya bersifat ringan dan sementara, antara lain:

  • Nyeri pada lengan, di tempat suntikan
  • Sakit kepala atau nyeri otot
  • Nyeri sendi
  • Menggigil
  • Mual atau muntah
  • Rasa lelah
  • Demam (ditandai dengan suhu di atas 37,8° C)

Anda dapat juga mengalami gejala mirip flu dan menggigil selama 1-2 hari.


Mengapa saya masih harus menerapkan protokol kesehatan (3M), padahal saya sudah divaksinasi?

Perlindungan optimal baru terbangun dua pekan setelah vaksinasi dosis kedua.

Walaupun jarang terjadi, masih ada orang yang tertular COVID-19 meskipun telah divaksinasi. Akan tetapi, gejala COVID-19 pada orang yang sudah divaksinasi umumnya ringan. Sebagian orang bahkan tidak mengalami gejala apa pun.

Penting untuk dipahami bahwa orang tanpa gejala (OTG) masih dapat menulari orang lain tanpa disadari. Oleh karena itu kita harus tetap menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan rajin mencuci tangan pakai sabun.

Info

Informasi ini bersifat panduan. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan jika Anda memiliki pertanyaan seputar kondisi kesehatan.

Sering Ditanyakan

Jika mengalami reaksi ringan seperti di atas, apa yang harus saya dilakukan?

Jika merasa tidak nyaman, Anda sebaiknya beristirahat. Jika dibutuhkan, Anda dapat menggunakan obat penurun panas sesuai dosis yang dianjurkan dan minum air putih dengan cukup.

Jika terdapat rasa nyeri di tempat suntikan, tetap gerakkan dan gunakan lengan seperti biasa. Apabila perlu, kompres bagian yang nyeri dengan kain bersih yang dibasahi dengan air dingin.

Apakah mungkin saya langsung mengalami KIPI setelah divaksinasi?

Beberapa orang yang memiliki alergi terhadap zat tertentu mungkin mengalami reaksi segera setelah divaksinasi. Akan tetapi, hal ini sangat jarang terjadi. Sebagai antisipasi, setiap penerima vaksin diminta menunggu di lokasi vaksinasi selama minimal 15 menit untuk dipantau keadaannya.

Apakah saya akan mengalami reaksi lagi setelah vaksinasi dosis kedua?

Sebagian orang mengalami KIPI yang lebih kuat setelah dosis kedua, namun ada pula yang tidak. Semua reaksi ini normal dan jika terjadi, akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.

Kapan saya perlu menemui tenaga kesehatan?

Jika demam timbul lebih dari 48 jam setelah vaksinasi, atau berlangsung lebih lama dari 48 jam, Anda harus isolasi mandiri dan melakukan tes COVID-19.

Jika keluhan tidak berkurang, penting untuk tetap tenang dan segera menghubungi petugas kesehatan di nomor kontak yang tertera di kartu vaksinasi Anda.

Apakah jika divaksin Covid-19 saya bisa terkena infeksi virus Covid-19 karena vaksin yang diberikan ?

Tidak. Tidak ada vaksin COVID-19 di dunia saat ini yang mengandung virus aktif yang dapat menyebabkan seseorang menjadi terinfeksi virus COVID-19. Hal ini berarti tidak ada vaksin COVID-19 yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit atau terinfeksi COVID-19.

Vaksin COVID-19 “mengajarkan” sistem imun manusia untuk mengenali dan melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Kadang proses ini dapat menyebabkan beberapa gejala seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membentuk proteksi dan sistem kekebalan tubuh melawan virus yang dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit atau terinfeksi COVID-19.

Apakah dengan memperoleh vaksin COVID-19 dapat menyebabkan saya menjadi terdeteksi positif saat tes swab antigen atau PCR COVID-19?

Tidak. Tidak ada vaksin COVID- 19 yang telah diteliti dan direkomendasikan untuk dipakai yang dapat menyebabkan seseorang terdeteksi positif saat dilakukan test swab antigen dan PCR (pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui apakah saat ini mengalami infeksi aktif).

Jika tubuh mulai membentuk respon imun terhadap vaksin (yang adalah tujuan utama vaksinasi) maka penerima vaksin dapat menerima hasil positif dalam tes antibodi. Tes antibody mengindikasikan bahwa seseorang sebelumnya mengalami infeksi dan memiliki level proteksi melawan virus.

Apakah aman untuk memperoleh vaksin COVID-19 jika berencana hamil atau mempunyai anak di masa mendatang ?

Ya. Vaksinasi COVID-19 direkomendasikan untuk semua orang berusia 12 tahun ke atas, termasuk perempuan yang sedang dalam program kehamilan atau akan hamil di masa mendatang, termasuk juga untuk pasangannya.

Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin apapun, termasuk COVID-19, dapat menyebabkan masalah kesuburan atau kesulitan hamil pada perempuan dan laki-laki.

Apakah berdekatan dengan seseorang yang menerima vaksin COVID-19 dapat mempengaruhi siklus menstruasi?

Tidak. Siklus menstruasi perempuan tidak dapat dipengaruhi dengan berdekatan dengan seseorang yang menerima vaksin COVID-19.

Beberapa hal yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi, termasuk stress, perubahan dalam jadwal, masalah dengan tidur, dan perubahan dalam pola makan atau olahraga. Infeksi juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi.

Apakah menerima vaksin COVID-19 dapat membuat seseorang menjadi magnetik ?

Tidak. Menerima vaksin COVID-19 tidak dapat membuat seseorang menjadi magnetik, termasuk pada lokasi penyuntikan yang biasanya dilakukan pada lengan atas. Vaksin COVID-19 tidak mengandung bahan yang dapat memproduksi medan magnet pada lokasi penyuntikan. Semua vaksin COVID-19 bebas dari logam.

Apakah menerima vaksin COVID-19 dapat mengubah DNA seseorang ?

Tidak. Vaksin COVID-19 tidak dapat mengubah atau berinteraksi dengan DNA seseorang dalam cara apapun. Baik jenis vaksin dengan platform mRNA, inactivated vaccines dan viral vector, vaksin COVID-19 memberikan instruksi (dalam bentuk material genetik) kepada sel tubuh kita untuk mulai membuat kekebalan tubuh melawan virus yang menyebabkan COVID-19. Walaupun begitu, materi genetik tersebut tidak akan pernah masuk ke dalam inti sel, tempat DNA berada.

Apakah vaksin Covid -19 aman meskipun diproduksi dalam waktu cepat?

YA. Vaksin COVID-19 meski dikembangkan dengan cepat namun melalui tahapan-tahapan untuk memastikan efikasi dan keamanannya.

Berapa lama harus menunggu untuk menerima vaksin COVID-19 jika sebelumnya menerima vaksin lain misalnya vaksin influenza?

Seseorang tetap dapat menerima vaksin COVID-19 dan vaksin lainnya, termasuk vaksin influenza, bahkan pada waktu yang sama. Pengalaman dengan vaksin lainnya menunjukkan bahwa cara tubuh kita mengembangkan kekebalan atau proteksi diketahui sebagai respon imun dan efek samping yang mungkin terjadi setelah tervaksinasi umumnya sama dengan baik diberikan bersamaan dengan vaksin lain atau diberikan tunggal.

Jika seseorang sudah terinfeksi COVID-19, apakah masih perlu divaksinasi ?

YA. Seseorang harus tetap divaksinasi meskipun sudah terinfeksi COVID-19, karena:
• Penelitian belum dapat memastikan seberapa lama seseorang terproteksi setelah terinfeksi COVID-19 dan sembuh.
• Vaksinasi menolong untuk melindungi seseorang bahkan jika terinfeksi COVID-19.

Salah satu penelitian menunjukkan bahwa orang tidak tervaksin yang sudah terinfeksi COVID-19, 2 kali beresiko terinfeksi COVID-19 lagi dibandingkan orang yang sudah tervaksinasi penuh.

Image
KPCPEN
Image
Kemenkes
Image
Kominfo
Image
Unicef